The five pillars of faith are duties each Muslim performs to demonstrate his or her faith.
1. Testimony of Faith (Kalima)
One must state, "There is no god, but Allah, and Muhammad is the Prophet of Allah." It consists of three parts
a) To reject all the false gods.
b) To accept Allah as the only sole creator of everything.
c) To Mohammad as the last messenger of Allah.
Quran declares, "Say: He is Allah, the One and Only! Allah, the Eternal, Absolute; He begetteth not nor is He begotten. And there is none like unto Him. "
2. Prayer (Salat)
It is compulsory for every Muslim to pray five times a day at respective timings facing towards the direction of Mecca. During the prayer, Muslims narrate verses from the Holy Quran, specially the following prayer which is recited at least 17 time a day,
"All praise is due to Allah, Lord of the worlds, The Most Gracious, the Most Merciful, and Sovereign of the Day of Judgment. It is You alone we worship and You alone we ask for help. Guide us to the straight path; The path of those upon whom You have bestowed favor, not of those who have evoked Your anger or of those who are astray." (1:1-7)
Quran tells about those who will get eternal success by stating that, "Certainly will the believers have succeeded, they who are during their prayer humbly submissive" (23:1-2)
3. Almsgiving (Zakat)
The word Zakat means "to grow" or "to purify". It literally means to gain Allah's blessings and purify the wealth by helping the needy. It is mandatory on every Muslim to give 2.5% of their yearly savings (or excess money) for charity.
Quran emphasizes the importance of zakat on various occasions, "Alms are for the poor and the needy, and those employed to administer the (funds); for those whose hearts have been (recently) reconciled (to Truth); for those in bondage and in debt; in the cause of Allah. and for the wayfarer: (thus is it) ordained by Allah, and Allah is full of knowledge and wisdom." (9:60)
4. Fasting (Sawm)
Following zakat, every Muslim is required to fast during the month of Ramadan from sunrise to sunset. During this period, Muslims are forbidden to eat, drink, smoke or have an intercourse. It not only physical discipline in one's life, but it is also a way to feel the afflictions of the poor.
Quranic verses explain fasting in detail,
"O ye who believe! Fasting is prescribed to you as it was prescribed to those before you, that ye may (learn) self-restraint" (2:183)
"Ramadhan is the (month) in which was sent down the Qur'an, as a guide to mankind, also clear (Signs) for guidance and judgment (Between right and wrong). So every one of you who is present (at his home) during that month should spend it in fasting, but if any one is ill, or on a journey, the prescribed period (Should be made up) by days later. Allah intends every facility for you; He does not want to put to difficulties. (He wants you) to complete the prescribed period, and to glorify Him in that He has guided you; and perchance ye shall be grateful." (2:185)
5. Pilgrimage (Hajj)
Hajj literally means to "set out for place". For Muslim, it is a pilgrimage to Kaaba (House of Allah) in Makkah. It is the responsibility of every physically and financially able Muslim to perform this offering at least once in a lifetime. Hajj is performed on the 10th day of Dhu al-Hijjah (the 12th and the final month of the Islamic calendar). Hajj is the symbol of unity among the Muslims. Millions of believers from all over the world participate in the ritual irrespective of their caste, color, creed or tradition. It tears down the difference of social status and brings all the Muslims on one platform. During this occasion, men only wear two unstitched clothes; one covers the lower part, and the other is wrapped around the shoulders. Women wear simple white dress and headscarf.
Allah says in the Holy Quran, "For Hajj are the months well known. If any one undertakes that duty therein, Let there be no obscenity, nor wickedness, nor wrangling in the Hajj. And whatever good ye do, (be sure) Allah knoweth it. And take a provision (With you) for the journey, but the best of provisions is right conduct. So fear Me, o ye that are wise." (2:197)
Though this page has been carefully researched, the author does not claim expertise on Islam.
Please send questions, comments, and corrections to emuseum@mnsu.edu and inlcude the URL of this page.
If you are Muslim, your feedback is much appreciated.
References
McDowell, Josh and Don Stewart
1992[1983] Handbook of Today's Religions. Twelfth printing. Nashville: Thomas Nelson Publishers.
Islamic City
Basics of Becoming a Muslim. Electronic Document, http://www.islamicity.com/mosque/Muslim.htm, accessed March 14,2009.
Shelley, Fred M. and Audrey E. Clarke, eds.
1994 Human and Cultural Geography. Dubuque, Iowa: Wm. C. Brown Publishers.
Image Credits
"Allah" and "Muhammad" caligraphy intertwined. Wazir Khan Mosque. Photo taken by "Razanoor."
http://www.flickr.com/photos/razanoor/166021178/
Written by: Salman Hakim, 2009
Sabtu, 09 April 2011
Mengingat Kematian
Oleh: Mahmud Yunus
Allah SWT berfirman: “Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan (kepada Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS Al-Jumuah [62]: 8). Merujuk pada ayat ini, ada empat hal menarik untuk kita renungkan: (1) dengan segala daya-upaya, manusia selalu menghindari kematian; (2) meskipun demikian, faktanya tidak seorangpun lolos dari kehadirannya; (3) siapun dan apapun keyakinannya, bakal dikembalikan kepada Allah SWT; dan (4) semuanya (menurut sebagian pakar yang telah mukallaf saja) pada saatnya akan dihadapkan pada prosesi perhitungan amal. Setelah itu, semua amal perbuatan mereka akan dibalas dengan seadil-adilnya.
Kebenaran ayat ini telah nampak secara kasat mata. Kita menyaksikan, banyak orang yang menggunakan hartanya, kekuasaannya, dan popularitasnya untuk “menghindari” kematian. Namun, sebagaimana kita saksikan tak seorangpun mampu menolaknya. Tidak sedikit orang yang sangat kaya, kini telah meninggal dunia. Tidak sedikit orang yang sangat berkuasa, kini telah tiada. Tidak sedikit pula orang yang sangat populer, kini telah kembali ke haribaannya. Mungkin di antaranya, kerabat atau sahabat kita sendiri yang amat kita cintai. Kita sendiri tidak tahu kapan, di mana, dan dengan cara apa kematian itu datang menjemput. Namun, banyak contoh kematian yang datangnya tiba-tiba. Lalu, ada yang meninggal dunia di darat, di laut, dan di angkasa. Kita pun menyaksikan, ada yang meninggal dunia dalam keadaan taat dan ada pula yang dalam keadaan maksiat. Tak ayal lagi, kita harus senantiasa waspada.
Adapun kondisi nyata di akhirat, bahwa semua manusia bakal dikembalikan kepada-Nya dan bakal diperhitungkan semua amalnya, baru bisa dibuktikan kelak sesudah kita berada di sana. Memang, kita belum dapat memastikannya sekarang. Namun, dalam pengetahuan Zat yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu (baik yang ghaib maupun yang nyata) semuanya itu pasti terjadi.
Sahabat Anas RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian, karena ia (dapat) menghilangkan dosa dan membuat zuhud di dunia”. Suatu saat Ibn Umar RA berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah SAW yang ketika itu sedang dikelilingi sekelompok orang. (Lalu) seorang sahabat dari kalangan Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling bijak dan paling mulia (dalam hidupnya), wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling tekun mempersiapkan diri untuk menyongsong kehidupan akhirat. Mereka itulah orang-orang bijak yang (bakal) memperoleh kemuliaan di dunia dan keagungan di akhirat”.
Diceritakan oleh Shafiyyah RA, suatu hari ada seorang perempuan yang “curhat” kepada Aisyah RA soal kekerasan hatinya. Lalu Aisyah RA berkata: “Perbanyaklah mengingat kematian, niscaya hatimu akan menjadi lembut”. Oleh sebab itu, mengingat kematian seyogyanya menjadi “santapan” kita sehari-hari. Wa Allahu A’lam.***
Allah SWT berfirman: “Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan (kepada Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS Al-Jumuah [62]: 8). Merujuk pada ayat ini, ada empat hal menarik untuk kita renungkan: (1) dengan segala daya-upaya, manusia selalu menghindari kematian; (2) meskipun demikian, faktanya tidak seorangpun lolos dari kehadirannya; (3) siapun dan apapun keyakinannya, bakal dikembalikan kepada Allah SWT; dan (4) semuanya (menurut sebagian pakar yang telah mukallaf saja) pada saatnya akan dihadapkan pada prosesi perhitungan amal. Setelah itu, semua amal perbuatan mereka akan dibalas dengan seadil-adilnya.
Kebenaran ayat ini telah nampak secara kasat mata. Kita menyaksikan, banyak orang yang menggunakan hartanya, kekuasaannya, dan popularitasnya untuk “menghindari” kematian. Namun, sebagaimana kita saksikan tak seorangpun mampu menolaknya. Tidak sedikit orang yang sangat kaya, kini telah meninggal dunia. Tidak sedikit orang yang sangat berkuasa, kini telah tiada. Tidak sedikit pula orang yang sangat populer, kini telah kembali ke haribaannya. Mungkin di antaranya, kerabat atau sahabat kita sendiri yang amat kita cintai. Kita sendiri tidak tahu kapan, di mana, dan dengan cara apa kematian itu datang menjemput. Namun, banyak contoh kematian yang datangnya tiba-tiba. Lalu, ada yang meninggal dunia di darat, di laut, dan di angkasa. Kita pun menyaksikan, ada yang meninggal dunia dalam keadaan taat dan ada pula yang dalam keadaan maksiat. Tak ayal lagi, kita harus senantiasa waspada.
Adapun kondisi nyata di akhirat, bahwa semua manusia bakal dikembalikan kepada-Nya dan bakal diperhitungkan semua amalnya, baru bisa dibuktikan kelak sesudah kita berada di sana. Memang, kita belum dapat memastikannya sekarang. Namun, dalam pengetahuan Zat yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu (baik yang ghaib maupun yang nyata) semuanya itu pasti terjadi.
Sahabat Anas RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian, karena ia (dapat) menghilangkan dosa dan membuat zuhud di dunia”. Suatu saat Ibn Umar RA berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah SAW yang ketika itu sedang dikelilingi sekelompok orang. (Lalu) seorang sahabat dari kalangan Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling bijak dan paling mulia (dalam hidupnya), wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling tekun mempersiapkan diri untuk menyongsong kehidupan akhirat. Mereka itulah orang-orang bijak yang (bakal) memperoleh kemuliaan di dunia dan keagungan di akhirat”.
Diceritakan oleh Shafiyyah RA, suatu hari ada seorang perempuan yang “curhat” kepada Aisyah RA soal kekerasan hatinya. Lalu Aisyah RA berkata: “Perbanyaklah mengingat kematian, niscaya hatimu akan menjadi lembut”. Oleh sebab itu, mengingat kematian seyogyanya menjadi “santapan” kita sehari-hari. Wa Allahu A’lam.***
Memelihara Keikhlasan
Memelihara Keikhlasan
Oleh: Mahmud Yunus
A
llah SWT menegaskan: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (QS Al- Bayyinah [98]: 5). Dalam ayat lainnya: “Luruskanlah mukamu (dirimu) pada setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya” (QS Al-‘Araf [7]: 29). Ahli tafsir menjelaskan yang dimaksud dengan lurus yaitu jauh dari syirik (menyekutukan Allah SWT dalam segala bentuknya dan terhindar dari penyimpangan sekecil apapun). Kewajiban menjaga keikhlasan dalam beribadat kepada Allah SWT ditegaskan berulang-ulang di dalam Al-Quran. Bahkan, surat ke-112 dinamai dengan Al-Ikhlash (Memurnikan keesaan Allah).
Secara fisik surat Al-Ikhlash itu “hanya” terdiri dari empat ayat pendek, namun kandungannya amat luar biasa. Rasulullah SAW bersabda: “Membaca ‘qul huwa Allahu ahad’ pahalanya setara dengan membaca sepertiga Al-Quran” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibn Majah, Malik, Ahmad, Thabrani, Al-Bazzar, dan Abu ‘Ubaid). Oleh karena itu, Saja’ Al-Ghanawi RA mengatakan: “Barang siapa membaca ‘qul huwa Allahu ahad’ tiga kali, maka ia seakan-akan membaca Al-Quran seluruhnya”. Atau sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, bahwa Muadz ibn Anas RA berkata: ”Barangsiapa membaca ‘qul huwa Allahu ahad’ sebelas kali, maka Allah (akan) membangunkan sebuah rumah untuknya di Surga”. Atau seperti yang diriwayatkan Thabrani, bahwa Fairuz RA berkata: “Barangsiapa membaca ‘qul huwa Allahu ahad’ seratus kali, di dalam shalat atau lainnya, maka ia dicatat oleh Allah sebagai orang yang terbebas dari siksa Neraka”. Dan, masih ada beberapa riwayat yang lainnya. Namun, perlukah kita menghitung-hitung “kebaikan” atau “ketaatan” kita sendiri?
Menurut Ibn Sina sebagaimana dikutip Muhammad Quraish Shihab dalam salah satu karyanya, niat/motivasi beribadat itu bertingkat-tingkat. Pertama, tipe pedagang (mengharap keun-tungan). Kedua, tipe budak/pelayan (takut terhadap majikannya). Ketiga, tipe ‘arif (bersyukur atas segala yang diberikan Allah SWT kepadanya). Lalu, Shihab menambahkan tipe lainnya yang ia namakan sebagai tipe robot (otomatis, tanpa pemikiran, tanpa pemahaman, dan tanpa penghayatan).
Tentu bijaksana, jika kita terbiasa melaksanakan ibadat menurut tipe ‘arif. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya bahwa tidak sedikit amal (ibadat) yang dibatalkan atau dihapuskan pahalanya akibat niatnya tidak murni karena Allah SWT. Wa Allahu ‘Alam.***
Oleh: Mahmud Yunus
A
llah SWT menegaskan: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (QS Al- Bayyinah [98]: 5). Dalam ayat lainnya: “Luruskanlah mukamu (dirimu) pada setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya” (QS Al-‘Araf [7]: 29). Ahli tafsir menjelaskan yang dimaksud dengan lurus yaitu jauh dari syirik (menyekutukan Allah SWT dalam segala bentuknya dan terhindar dari penyimpangan sekecil apapun). Kewajiban menjaga keikhlasan dalam beribadat kepada Allah SWT ditegaskan berulang-ulang di dalam Al-Quran. Bahkan, surat ke-112 dinamai dengan Al-Ikhlash (Memurnikan keesaan Allah).
Secara fisik surat Al-Ikhlash itu “hanya” terdiri dari empat ayat pendek, namun kandungannya amat luar biasa. Rasulullah SAW bersabda: “Membaca ‘qul huwa Allahu ahad’ pahalanya setara dengan membaca sepertiga Al-Quran” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibn Majah, Malik, Ahmad, Thabrani, Al-Bazzar, dan Abu ‘Ubaid). Oleh karena itu, Saja’ Al-Ghanawi RA mengatakan: “Barang siapa membaca ‘qul huwa Allahu ahad’ tiga kali, maka ia seakan-akan membaca Al-Quran seluruhnya”. Atau sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, bahwa Muadz ibn Anas RA berkata: ”Barangsiapa membaca ‘qul huwa Allahu ahad’ sebelas kali, maka Allah (akan) membangunkan sebuah rumah untuknya di Surga”. Atau seperti yang diriwayatkan Thabrani, bahwa Fairuz RA berkata: “Barangsiapa membaca ‘qul huwa Allahu ahad’ seratus kali, di dalam shalat atau lainnya, maka ia dicatat oleh Allah sebagai orang yang terbebas dari siksa Neraka”. Dan, masih ada beberapa riwayat yang lainnya. Namun, perlukah kita menghitung-hitung “kebaikan” atau “ketaatan” kita sendiri?
Menurut Ibn Sina sebagaimana dikutip Muhammad Quraish Shihab dalam salah satu karyanya, niat/motivasi beribadat itu bertingkat-tingkat. Pertama, tipe pedagang (mengharap keun-tungan). Kedua, tipe budak/pelayan (takut terhadap majikannya). Ketiga, tipe ‘arif (bersyukur atas segala yang diberikan Allah SWT kepadanya). Lalu, Shihab menambahkan tipe lainnya yang ia namakan sebagai tipe robot (otomatis, tanpa pemikiran, tanpa pemahaman, dan tanpa penghayatan).
Tentu bijaksana, jika kita terbiasa melaksanakan ibadat menurut tipe ‘arif. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya bahwa tidak sedikit amal (ibadat) yang dibatalkan atau dihapuskan pahalanya akibat niatnya tidak murni karena Allah SWT. Wa Allahu ‘Alam.***
Langganan:
Postingan (Atom)