Oleh: Mahmud Yunus
Allah SWT berfirman: “Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan (kepada Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS Al-Jumuah [62]: 8). Merujuk pada ayat ini, ada empat hal menarik untuk kita renungkan: (1) dengan segala daya-upaya, manusia selalu menghindari kematian; (2) meskipun demikian, faktanya tidak seorangpun lolos dari kehadirannya; (3) siapun dan apapun keyakinannya, bakal dikembalikan kepada Allah SWT; dan (4) semuanya (menurut sebagian pakar yang telah mukallaf saja) pada saatnya akan dihadapkan pada prosesi perhitungan amal. Setelah itu, semua amal perbuatan mereka akan dibalas dengan seadil-adilnya.
Kebenaran ayat ini telah nampak secara kasat mata. Kita menyaksikan, banyak orang yang menggunakan hartanya, kekuasaannya, dan popularitasnya untuk “menghindari” kematian. Namun, sebagaimana kita saksikan tak seorangpun mampu menolaknya. Tidak sedikit orang yang sangat kaya, kini telah meninggal dunia. Tidak sedikit orang yang sangat berkuasa, kini telah tiada. Tidak sedikit pula orang yang sangat populer, kini telah kembali ke haribaannya. Mungkin di antaranya, kerabat atau sahabat kita sendiri yang amat kita cintai. Kita sendiri tidak tahu kapan, di mana, dan dengan cara apa kematian itu datang menjemput. Namun, banyak contoh kematian yang datangnya tiba-tiba. Lalu, ada yang meninggal dunia di darat, di laut, dan di angkasa. Kita pun menyaksikan, ada yang meninggal dunia dalam keadaan taat dan ada pula yang dalam keadaan maksiat. Tak ayal lagi, kita harus senantiasa waspada.
Adapun kondisi nyata di akhirat, bahwa semua manusia bakal dikembalikan kepada-Nya dan bakal diperhitungkan semua amalnya, baru bisa dibuktikan kelak sesudah kita berada di sana. Memang, kita belum dapat memastikannya sekarang. Namun, dalam pengetahuan Zat yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu (baik yang ghaib maupun yang nyata) semuanya itu pasti terjadi.
Sahabat Anas RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian, karena ia (dapat) menghilangkan dosa dan membuat zuhud di dunia”. Suatu saat Ibn Umar RA berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah SAW yang ketika itu sedang dikelilingi sekelompok orang. (Lalu) seorang sahabat dari kalangan Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling bijak dan paling mulia (dalam hidupnya), wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling tekun mempersiapkan diri untuk menyongsong kehidupan akhirat. Mereka itulah orang-orang bijak yang (bakal) memperoleh kemuliaan di dunia dan keagungan di akhirat”.
Diceritakan oleh Shafiyyah RA, suatu hari ada seorang perempuan yang “curhat” kepada Aisyah RA soal kekerasan hatinya. Lalu Aisyah RA berkata: “Perbanyaklah mengingat kematian, niscaya hatimu akan menjadi lembut”. Oleh sebab itu, mengingat kematian seyogyanya menjadi “santapan” kita sehari-hari. Wa Allahu A’lam.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar