Selasa, 11 Juni 2013

Sepenuh Hati

Sepenuh Hati
Oleh Mahmud Yunus
D
ikisahkan di salah satu sudut pasar Madinah al-Munawwarah ada seorang pengemis tunanetra. Dia konon penganut agama Yahudi yang taat. Dia mengherankan banyak orang karena ucapan-ucapannya yang tak lazim. Setiap kali ada yang lalu-lalang di sekitarnya dia selalu mengatakan: “Wahai saudaraku! Engkau jangan sekali-kali mendekati Muhammad. Dia gila. Dia pembohong. Dia penipu. Dia tukang sihir. Apabila engkau mendekatinya tentu engkau akan terpengaruh olehnya".   
Suatu hari kabar tentang keberadaan pengemis itu sampai di telinga Rasulullah SAW. Lalu suatu pagi, beliau pun sengaja datang menemuinya. Benar saja, pengemis itu mengatakan hal yang biasa dia katakan kepada orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Yakni, menyuruh untuk menjauh dari Muhammad dan ajarannya. Dengan maksud agar orang lain mengikuti ucapan-ucapanya, dia pun tak segan-segan menjelek-jelekkan Rasulullah SAW.
Setelah memastikan keberadaan pengemis itu, Rasulullah SAW dengan senang hati terus-menerus mengunjunginya. Setiap pagi, beliau selalu membawa kurma terbaik untuknya. Tak hanya itu, beliau pun selalu menyuapinya dengan penuh kasih sayang. Setiap pagi itu pula, beliau selalu mendengarkan ocehan pengemis itu dengan sabar. Meski pun demikian, beliau tak pernah tersinggung. Bahkan, beliau tak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Rentetan kejadian ini baru berhenti beberapa saat sebelum Rasulullah SAW meninggal dunia.
Semenjak Rasulullah SAW wafat, pengemis itu sempat bertanya-tanya dalam hati kecilnya. Mengapa orang yang selama ini setia mengunjunginya sudah beberapa hari ini tak kunjung datang? Dia menyadari, saat ini tidak ada lagi orang yang melayani dirinya dengan sepenuh hati. Ada perasaan menyesal, mengapa tak pernah menanyakan siapa dia sebenarnya?
Pasca meninggalnya Rasulullah SAW, Abu Bakar RA menyempatkan diri berkunjung ke Aisyah RA. Beliau bertanya kepada puterinya dengan lembut: “Puteriku, adakah sunnah kekasihku (Rasulullah SAW) yang belum aku kerjakan?”. Lalu Aisyah RA menjawab dengan penuh hormat: “Ayahanda, engkau adalah seorang ahli sunnah. Hampir semua sunnah Rasulullah SAW sudah pernah ayah kerjakan dengan sebaik-baiknya. Kecuali satu hal …”. Sahut Abu Bakar RA: “Apa itu? Lekas katakan, puteriku”. Aisyah RA menjelaskan apa adanya: “Setiap pagi, beliau selalu memberikan kurma terbaik kepada pengemis di salah satu sudut pasar di kota ini. Dia tunanetra. Dia Yahudi”.
Berbekal segenggam kurma terbaik, keesokan harinya Abu Bakar RA bergegas menuju pasar. Dia berusaha mencari keberadaan pengemis tunanetra yang dikatakan puterinya. Berhasil. Dia segera memberikan kurma yang dibawanya kepada pengemis itu. Pengemis tak lazim itu menolak pemberian tersebut. Dia ingin langsung disuapi sebagaimana biasanya. Abu Bakar RA pun segera menyuapi pengemis itu. Namun, pengemis itu malah marah besar. “Siapa sih kamu?”. “Aku orang yang biasa”, tukas Abu Bakar RA. “Bukan! Kamu berbohong. Apabila orang yang biasa itu datang; tangan ini tak pernah kesulitan untuk memegang dan mulut ini tak pernah kesulitan untuk mengunyah”, cetusnya. Lalu ia melanjutkan: “Orang yang biasa datang itu selalu menyuapiku dengan sepenuh hati. Sebelum menyuapiku, dia menghaluskan terlebih dahulu makanan itu dengan mulutnya. Lalu, dia menyuapiku dengan mulutnya”.

Menyimak keterangan tersebut, Abu Bakar RA tak kuasa membendung air matanya. Sambil terisak-isak Abu Bakar RA mengatakan, bahwa yang dimaksud oleh pengemis itu tidak lain adalah Rasulullah SAW. Ketahuilah, beliau sekarang telah tiada. Aku hanyalah salah seorang sahabatnya, imbuhnya. Mendengarkan penjelasan Abu Bakar RA, pengemis itu ikut larut dalam kesedihan. Dia menyesali ucapan-ucapannya selama ini tentang Rasulullah SAW. Maka, di hadapan Abu Bakar RA pengemis itu pun menyatakan masuk Islam.***

Arak Bertukar Madu

Arak Bertukar Madu
Oleh Mahmud Yunus
S
aat Umar bin Khaththab RA tengah berjalan-jalan di Madinah al-Munawwarah, tiba-tiba berpapasan dengan seorang pemuda tanggung yang gerak-geriknya mencurigakan. Menyadari pria yang ada di hadapannya Umar bin Khaththab RA, pemuda tanggung tersebut tampak benar-benar kaget. Dia tak dapat menyembunyikan rasa takutnya. Secepat kilat dia berupaya menyembunyikan kendi yang dibawanya ke dalam jubah tebalnya. Namun, ternyata Umar bin Khaththab RA melihat gelagat itu dengan mata kepalanya.
Muncullah kecurigaan Umar bin Khaththab RA, “Hey! Apa sebenarnya yang kau bawa itu?”, katanya. Karena takut dimarahi oleh Umar bin Khaththab RA yang terkenal sangat tegas itu, pemuda tanggung itu pun menjawab sekenanya, “Yang saya bawa ini madu, Tuan”. Padahal, sebenarnya kendi itu berisi khamr (arak) sisa minumnya beberapa waktu sebelumnya. Hanya saja dia telah membulatkan tekadnya untuk berhenti mengonsumsi arak. Dia benar-benar kapok dan ingin segera meninggalkan tindakan bodohnya itu! Dia memastikan bahwa dia hendak bertobat. Dalam hatinya, dia memohon kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh agar Umar bin Khaththab RA tidak sampai memeriksa isi kendi yang dibawanya.
Awalnya seolah-olah doa pemuda tanggung tersebut diabaikan oleh Allah SWT karena Umar bin Khaththab RA tetap ingin membuktikannya sendiri. “Boleh saya lihat?”, kata Umar bin Khaththab RA sambil mendekat. Sebelum mengabulkan permintaan Umar bin Khaththab RA, pemuda tanggung tersebut benar-benar menyerahkan diri kepada Allah SWT bahwa dia tidak akan main-main lagi dengan arak. “Ya Rabb! Ampunilah hamba-Mu ini”, katanya. Dia  memohon ampun kepada yang Maha Pengampun dan yang Maha Menerima Tobat.
Di benaknya terbayang beberapa siksaan/adzab yang akan ditimpakan kepada mereka yang mengonsumsi arak. Pertama, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan janji-Nya kepada peminum minuman yang memabukkan, yakni Dia akan memberi kepadanya minuman dari Thiinatu al-Khabaal. Sahabat bertanya: “Ya Rasulallah apa yang dimaksud Thiinatu al-Khabaal itu?” Beliau menjawab: “Yaitu keringat dan darah penghuni Neraka” (HR Muslim dan Nasa’i). Kedua, “Ada tiga golongan (manusia) yang shalatnya tidak akan diterima serta kebaikannya tidak akan diangkat ke langit yaitu budak yang lari dari tuannya hingga dia kembali dan meminta maaf kepadanya; isteri yang membuat suaminya marah kepadanya (karena menolak disetubuhi olehnya) hingga dia ridha kepadanya; dan peminum arak hingga dia insaf” (HR Ibnu Huzaimah, Ibnu Hibban, Baihaqi, dan Thabrani). Ketiga, “Orang yang minum arak tidak sampai mabuk, maka Allah akan menjauh darinya selama 40 malam, dan orang yang minum arak sampai mabuk, maka Allah tidak akan menerima tebusannya selama 40 malam. Dan jika mati dalam keadaan demikian, maka dia mati dalam keadaan seperti matinya penyembah berhala dan Allah berhak memberi minum berupa keringat dan darah penghuni Neraka kepadanya” (HR Hakim). Keempat, “Barangsiapa meminum arak di dunia, maka Allah akan mengharamkannya kelak di akhirat” (HR Bukhari dan Muslim). Kelima, “Barangsiapa meminum arak di dunia dan dia mati sedangkan dia belum bertobat, maka di akhirat dia tidak berhak meminumnya” (HR Muslim). Dan yang tak kalah pentingnya di benaknya terbayang pula, apa gerangan yang hendak dilakukan Umar bin Khaththab RA terhadapnya manakala beliau mengetahui isi kendi itu berupa arak?

“Si … Silakan, Tuan”, kata pemuda tanggung itu dengan berat hati. Umar bin Khaththab RA menerima kendi itu dengan kedua tangannya. Perlahan-lahan, dibukanya tutupnya. Lalu, dibauinya berkali-kali. Kemudian, dilihatnya dengan seksama. Ternyata, kendi itu benar-benar berisi madu! “Engkau benar!”, kata Umar bin Khaththab RA. Subhaanallaah. Allah lah yang telah menukar arak dengan madu lantaran pemuda tanggung itu telah bertobat.***